Aqiqah menjadi salah satu bentuk rasa syukur atas anugerah yang telah Allah SWT berikan berupa keturunan yang baik. Di tengah masyarakat saat ini terdapat berbagai alternatif untuk bisa memberikan pelayanan aqiqah guna melaksanakan ibadah yang satu ini. Bagi sebagian orang, ibadah ini menjadi penting dan membutuhkan persiapan yang matang. Mengapa demikian?

Kehadiran buah hati adalah salah satu hal yang sangat dinantikan oleh setiap pasangan suami istri. Karena anak menjadi pelengkap dalam berumah tangga. Jika Allah sudah menitipkan dengan kehamilan sang istri, maka jagalah dengan baik. Jika bayi lahir ke dunia, tradisi umat islam adalah melakukan aqiqah dengan cara menyembelih hewan kambing. Jadi, bagaimana Aqiqah dalam pandangan islam? apa hukum aqiqah dalam islam? simak penjelasan dibawah ini.

Aqiqah Dalam Pandangan Islam, Seperti Apa?

Kata aqiqah berasal dari bahasa arab yaitu al-qat’u yang artinya memotong. Sedangkan secara istilah, aqiqah adalah pemotongan hewan sembelih yang dilakukan pada hari ketujuh setelah bayi dilahirkan ke dunia. Pendapat ini merujuk kepada hadis nabi yang artinya:

“Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dia dicukur dan diberi nama”. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dinyatakan shohih oleh At-tirmidzi).”

Pernak Pernik Acara Aqiqah, sumber ig sukekezutan
Pernak Pernik Acara Aqiqah, sumber ig @sukekezutan

Hadis diatas menganjurkan pelaksanaan aqiqah di hari ketujuh setelah bayi dilahirkan. Jika di hari ketujuh ada halangan dan tidak bisa melakukan aqiqah maka dianjurkan di hari ke empat belas. Jika tidak bisa juga maka, lakukanlah aqiqah pada hari kedua puluh satu. Jika ketiga waktu tersebut tidak bisa dikerjakan, maka lakukan semampunya saja. Ketiga waktu yang ditentukan itu hukumnya sunnah bukan wajib.

Hukum Aqiqah Dalam Pandangan Ulama

Aqiqah adalah salah satu ajaran yang Rasulullah SAW yang disampaikan kepada umatnya. Menurut pandangan islam, hukum melaksanakan aqiqah terbagi menjadi 2 macam, diantaranya : sunnah dan wajib. Bagaimana penjelasannya dan yang mana yang menjadi ketentuan bagi kita? Simak penjelasan berikut ini.

1. Sunnah

Pendapat ini bersumber dari para ulama diantaranya Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Pendapat ini menurut Mazhab yang dianut oleh masing-masing ulama yang tiga ini.

Hukum aqiqah dalam pandangan Islam yang pertama ini sifatnya sangat kuat dibandingkan dengan pendapat-pendapat yang lainnya. Mengapa demikian, karena ulama ini menyatakan sunnah muakkad yaitu jika seseorang mampu untuk melaksanakannya maka beraqiqahlah secepatnya. Jika ada orang yang tidak sanggup untuk beraqiqah maka tinggalkanlah.

Jadi jika kita mampu untuk beraqiqah secepatnya maka lakukanlah jangan ditunda-tunda. Dengan sebaliknya jika kita adalah seorang yang kurang mampu untuk membeli hewan qurban maka tidak apa-apa jika kita tida melaksanakannya.

Kambing Aqiqah, sumber ig sheep_mylove
Kambing Aqiqah, sumber ig @sheep_mylove

Bisa kita simpulkan bahwa, jika kita bisa menjalankan aqiqah setelah hari ke tujuh pasca bayi itu lahir, hari ke empat belas atau dua puluh. Jika kita tidak bisa maka semampu kita saja, sebab tidak wajib dan hukumnya sunnah muakkad.

2. Wajib

Dikatakan wajib karena ada hadis yang menyatakan bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia itu masih tergadai. Sesuai dengan redaksi dari salah satu hadis. Berikut terjemahan hadisnya:

“anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya dihari ketujuh dicukur kepalanya dan diberi nama.” (HR Ahmad)

Ada beberapa ulama yang merujuk kepada hadis tersebut diantaranya Imam Laits dan Hasan AL-Bashri beliau berpendapat bahwa hukum aqiqah itu wajib dilaksanakan. Para ulama diatas memahami hadis tersebut bahwa seorang anak tidak akan memberi syafaat kepada orang tua selama belum diaqiqahkan, dengan itu hukum aqiqah menjadi wajib.

Sayangnya pendapat ini sangat lemah dan ditolak oleh sebagian besar para ulama. Karena setiap manusia yang terlahir ke dunia semuanya sudah membawa rizkinya masing-masing. Pendapat ini menjadi lemah sebab terlalu memaksakan kehendak. Bagaimana nasib orang-orang yang kurang mampu untuk membeli hewan qurban?

Semoga setelah kita tahu apa itu aqiqah dalam pandangan Islam, kita tidak ragu lagi dan bisa melaksanakan perintah aqiqah ini semaksimal mungkin. Hanya perlu diingat untuk memilih lembaga aqiqah terpercaya dan memahami dengan benar bagaimana aqiqah yang disunahkan Syariat Islam. Semoga bermanfaat, amin ya rabbal ‘alamin.